Resah

Saya husnudzon kepadaMu, sungguh takdirMu itu saya sangat percayakan. Tapi tidak bisa dipungkiri, ada semacam keresahan di hati. Dan keresahan ini tidak bisa dihilangkan, apakah semacam ini hanya bayang-bayang godaan, atau sebuah pertanda?

Karena banyak sekali hal pemicu keresahan itu timbul, semua ini saya lakukan masih setengah hati, dan tidak ada satu manusia pun yang tahu, saya tutupi dengan sebuah untaian doa dan harapan. Karena Engkau pasti punya jalan sendiri untuk makhlukMu ini kan?

Satu yang pasti, saya tidak ingin memikirkan apa-apa, saya hanya ingin bahagia, itu saja. Ijinkan hambaMu ini untuk merasakan kebahagiaan itu, karena ini adalah sebuah impian dari dulu.

Ikhlas dan ridho adalah ciri seorang yang beriman.

Jika menengok ke belakang, sungguh saat itu saya benar-benar bodoh, tidak bisa menentukan untuk diri sendiri, kehidupan sendiri, semaunya saja diatur oleh orang lain. Tapi hidup bukan untuk menengok ke belakang bukan? Karena kalau melihat ke belakang terus, akan menyebabkan saya sakit.

Jauhkan dari semua keburukan, jika ada aral melintang nantinya, kumohon jangan susah2 ya…sehingga saya bisa melewatinya. Ya, saya siap lewati kerikil-kerikil yang mungkin tajam itu. Kuatkan hamba Ya ALLAH !!

 

Rasa sekarang, rasa ini

Seiring waktu saya mulai mengenalnya. Karakter, kepribadian, tingkah laku, aktifitas, cara berpikir. Perlahan dan penuh kehatia-hatian dalam bertindak, berpikir panjang. Selalu melihat sisi dalam diriku, saya merasa sayalah bagian utama dalam hidupnya sekarang.

Seorang yang tumbuh dewasa. Dengan kedewasaanya sekarang, mampu membuat saya cukup terpesona, kagum akan sosoknya. Walau kadang masih ada secuil rasa yang tidak enak, tapi rasa yang secuil itu bisa tertutupi dengan semua kebaikannya.

Semoga yang terlihat sekarang di depan mata bukanlah sesuatu yang semu, yang sewaktu-waktu bisa luntur atau bahkan hilang bagai debu di tengah jalan. Rasa yang sekarang ada semoga akan tetap sama setelah 10 tahun, 20 tahun, atau bahkan seribu tahun lagi.

Amin.

Spirit of life

Tulisan kali ini mengawali saya memulai aktifitas menulis lagi, setelah sekian lama vakum rasanya ingin kembali dirumah “penasaya” ini 🙂

Dan yang saya rasakan, tulisan kali ini lebih ada spirit of life-nya, dalam hidup memang kadang ada ujian yang datang, tapi bukan berarti kita harus terpuruk akan ujian itu, namun dengan ujian itu bagaimana cara kita menghadapinya dan menjalaninya dengan sabar dan ikhlas. Bahwa semua itu adalah ketentuan dari Yang Maha Kuasa, jangan pernah menyesali dan saling menyalahkan,

“Kita mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kita memiliki kepal tangan untuk mengubahnya… Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kita hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kita…”

 Dan kali ini ingin ga sembunyi lagi, sembunyi itu seperti ada sesuatu yang ditahan, rasanya beratt. Oleh karena itu, saat ini detik ini saya mencoba untuk terbang bebaass…

Ps : Walau alih-alih ini hanya pelarian tapi semoga dapat membawa manfaat 😀

Galau…

Entah apa yang sedang kualami saat ini, saya sendiri pun tak tahu. Entah skenario seperti apa yang sedang Engkau susun untuk hidupku, saya sendiri pun tak tahu. Rencana-Mu benar-benar menakjubkan.

Seperti halnya hidup berawal dari mimpi. Apakah sebuah pernikahan juga berawal dari mimpi?

Kutuangkan hanya disini

Untuk seorang yang berada nun jauh disana, kapan kamu datang. Jangan salahkan saya jika nanti tidak bisa menunggumu terlalu lama.

Orang yang berdoa itu banyak, tapi belum tentu semua doa itu dapat diqobul. Hanya orang-orang pilihanNya yang doanya diijabah.

Paras. Memang nomor satu sekarang. Seorang yang aktif guyub rukun, yang boleh dibilang lebih banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk majelis, bukan jaminan sekarang. Jadi, engkau jangan mentang-mentang ya, jangan semua itu lantas menjadi andalan, orang-orang juga tidak bodoh loh.

Titik.

Bukan saya tidak bisa menerima, bukan. Tapi yang membuat saya tersentak begitu dahsyat adalah bahwa rasa sakit ini bisa dialamai oleh siapa saja, tidak terkecuali diriku. Menjadikan saya semakin takut untuk menatap masa depan, ingin rasanya berhenti di titik ini.